ScreenNewsBogor.com, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor – Peristiwa bencana alam yang terjadi beberapa tahun lalu di Kawasan Puncak harusnya menjadi early warning bagi semua pemangku kebijakan baik tingkat daerah, provinsi maupun pusat.
Proses bisnis yang tidak mementingkan kepada aspek ekologi harus sudah direndam di kawasan hulu Puncak Kabupaten Bogor.
Aspek sosial maupun ekonomi harus bersama-sama melestarikan alam namun tetap berdampak pada peningkatan ekonomi.
Dalam buku Isu Dan Aksi di Kawasan Puncak dalam perspektif ekologi dan sosial yang ditulis dan disusun oleh para pakar, ahli dan guru besar IPB University yakni Ernan Rustiadi, Arief Rahman, Siti Wulandari, Setyardi Pratika Mulya menyebutkan secara gamblang berbagai kajian dan riset sesta data lapangan terkait kondisi kawasan puncak.
Dalam buku tersebut dituliskan Debit aliran sungai mengalami penurunan minimum pada umumnya terjadi pada bulan Agustus dan maksimum pada bulan Januari.
Di sepanjang tahunnya debit rata-rata minimum berada antara 0,610–20,610 – 7,658 m³/detik dan maksimum 23,320–261,790 m³/detik (Pusdatin Sumber Daya Air, 2017).
“Potensi sumber air permukaan selain sungai yang ada di Kawasan Puncak adalah berupa situ atau danau, baik situ alam maupun buatan. Saat ini situ-situ buatan dapat dimanfaatkan sebagai tampungan air baku, resapan air, maupun pengendali banjir (retarding basin) (Bappeda, 2018),” dikutip dari buku Isu dan Aksi di kawasan puncak.
Inventarisasi yang dilakukan oleh Pusdatin Sumber Daya Air mendapati bahwa dari 122 situ yang ada di wilayah Cisarua, 68%-nya dapat dikatakan sudah rusak.
Terdapat akuifer produktif terletak di Kawasan Puncak yakni di sebagian daerah timur Gunung Gede Pangrango dan sebelah utara kaki Gunung Salak dengan luah sumur 5–25 liter/detik, dimana sumber air berasal dari Gunung Gede Pangrango dan kaki Gunung Salak dengan ketebalan akuifer 2–77 meter yang mengalir dari selatan ke utara. Bagian selatan merupakan daerah resapan air (recharge area).
Sementara itu keadaan topografi Kawasan Puncak dapat diklasifikasikan ke dalam enam kelompok (Gambar 2) yaitu topografi datar (0–8%) sampai dengan sangat curam (>45%).
DAS Ciliwung Hulu merupakan dataran tinggi dengan kelerengan yang didominasi datar (32,95%) dan bergelombang (25,19%), dan sisanya berupa dataran dengan topografi landai (12,60%), curam (13,14%) dan sangat curam (16,12%).
Topografi datar sampai dengan landai dapat dijumpai di Kecamatan Ciawi, dan landai sampai dengan sangat curam dapat dijumpai di wilayah Kecamatan Megamendung dan Kecamatan Cisarua.
Batas wilayah utara, timur, dan selatan banyak dijumpai lahan dengan topografi curam sampai dengan sangat curam (>26%). Kondisi demikian diakibatkan oleh posisi DAS Ciliwung Hulu yang keberadaannya dikelilingi oleh beberapa gunung yaitu Gunung Gede Pangrango, Gunung Mandalawangi, Gunung Kencong dan lain-lain.
Kepentingan kawasan puncak menjadi tragedy of the commons yang merupakan ruang bersama antar masyarakat lokal, pengusaha serta para pendatang hingga wisatawan
“Ruang bersama ini dalam perjalannya ditingkahi oleh gesekan antar penghuni dalam pemanfaatanya. pencaplokan lahan perkebunan, pembangunan villa,” dikutip dari buku Isu dan Aksi di kawasan Puncak dalam perspektif ekologi dan sosial di hal ix, Selasa (2/12/2025).
Bencana alam di wilayah Puncak terjadi saat banjir bandang di wilayah Desa Tugu Selatan Cisarua pada 19 Januari 2021
Sementara itu secara kumulatif sepanjang tahun 2016 – 2020 terjadi 151 kejadian bencana longsor yang sebaran lokasinya sebanyak 97 kejadian atau (64%) di Megamendung, 54 kejadian atau(36%) di Kecamatan Cisarua.
Dibanding dengan data pada periode 2011 – 2015 kejadian longsor di wilayah Cisarua dan Megamendung meningkat empat kali lipat.
Demikian pula dengan fenomena banjir yang frekuensinya mengalami peningkatan.
“Sebagai anggota dari sivitas akademik IPB University dan juga masyarakat Bogor maka sebagai konsekuensi moral, kami harus melakukan apa yang bisa dilakukan untuk berkontribusi terhadap apa yang disebut dengan penyelamatan puncak,”dikutip di hal X.
Sehingga semua pihak diajak untuk tidak hanya melakukan penanaman pohon secara simbolis, tetapi juga menyelamatkan lingkungan hidup secara nyata berkelanjutan dan konsisten untuk menjaga juga melakukan berbagai alternatif aksi sosial ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.












