ScreenNewsBogor.com, Bogor Timur, Kota Bogor – Bisnis kafe dan kedai kopi yang menjamur di penjuru Tanah Air selalu diikuti dengan sampah plastik yang juga berjamur. Tanpa dipilah dan diolah, plastik hanya akan menjadi sampah selamanya.
Prinsip itu yang digunakan Kopi Nako Daur Baur dalam mengelola bisnis mereka.
Founder dan Chief Operating Officer (COO) DBMF Rony Rahardian menjelaskan, gelas-gelas plastik itu milik Kopi Nako yang diambil dari gerai atau kafe mereka di seluruh Indonesia.
Rony memanfaatkan proses distribusi kopi dari Rumah Sangrai Kopi Nako ke semua gerai untuk mengumpulkan sampah. Rony bukan hanya COO, dia juga salah satu ”otak” di balik desain-desain daur ulang sampah plastik tersebut.
”Kan, semua kopi yang ada di seluruh kafe Kopi Nako itu dikirim dari sini (Bogor). Jadi, mobil boks itu berangkat bawa kopi, pulang bawa sampah plastik,” katanya.
Sampah plastik itu pun sudah dibersihkan sehingga begitu sampai di DBMF bisa langsung diolah. Di beberapa kafe Kopi Nako, lanjut Rony, pihaknya juga mengajak pengunjung untuk bisa bertanggung jawab pada sampahnya. Tak hanya membuang ke tempat sampah, tetapi memilah dan bahkan ikut membersihkan.
Caranya mudah, mereka memasang mesin pembersih gelas plastik yang disebut Rinse and Collect. Ajakan kepada pengunjung untuk ikut menjaga lingkungan itu kemudian diberikan istilah seven sec action. Maksudnya, hanya butuh tujuh detik untuk ikut dalam upaya mengurangi sampah plastik.
Rinse and Collect itu berupa mesin pencuci. Pengunjung bisa langsung membuang sisa kopi dan jenis minuman lain, lalu menekan ujung besi pada alat itu agar air membersihkan seluruh gelas. Begitu juga pada penutup gelas. Hanya butuh tujuh detik, setelah itu gelas bisa langsung dibuang ke keranjang di sebelahnya.
”Semua dikumpulkan, lalu dibawa ke microfactory untuk diolah. Dulu sebelum ada mesin ini, y,a kami cuci sendiri semua cup yang ada sampai bersih. Itu membutuhkan waktu yang lama dan effort (usaha) yang tak mudah,” tuturnya
Rony mengungkapkan, dengan adanya mesin itu, pengunjung diajak untuk berpartisipasi dalam proses daur ulang. ”Ada yang bilang bahwa cup-nya dipakai lagi untuk seduh kopi. Tidak. Cup-nya tidak dipakai lagi, dicuci untuk didaur ulang, bukan untuk dipakai lagi untuk minum. Semuanya sekali pakai,” ujarnya.
Sekilas kafe Kopi Nako di Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (11/6/2025) siang tampak sama dengan kafe-kafe kekinian. Namun, di balik kafe itu ada ide besar.
Cukup berjalan beberapa meter ke belakang, suara mesin-mesin pencacah berbunyi.
Di samping mesin itu ada Dikha Pradipta Ramdhani yang sibuk memasukkan plastic cup atau gelas plastik bekas minuman kopi ke dalam mesin pencacah.
Di samping tempatnya berdiri ada boks-boks bertumpuk berisi cacahan gelas plastik yang berbentuk bagai serbuk dengan berbagai ukuran.
Di belakang boks itu ada kantong plastik hitam besar tempat menyimpan gelas plastik yang belum dicacah.
Gelas plastik itu dipilah berdasarkan jenisnya, lalu dimasukkan ke dalam boks yang berbeda setelah dicacah. Beberapa jenis gelas kopi plastik itu dipilah dari jenis plastiknya, antara lain PET (polyethylene terephthalate) dan PP (polypropylene).
Sebagian besar gelas milik Kopi Nako Daur Baur merupakan jenis PP. Jenis ini digunakan karena merupakan jenis plastik yang paling tahan panas.
Setelah gelas plastik dicacah, Dikha membawa boks-boks hasil cacahan ke ruangan sebelahnya.
Boks itu pun ditandai dengan label yang berbeda, ada grade 1 sampai 5. Grade tersebut memisahkan jenis plastik dan kualitasnya.
Ruangan di sebelah itu lebih besar, ada setidaknya dua mesin pres di sana.
Ruang ini tak seperti ruang kerja atau pabrik, tapi lebih seperti ruang seni.
Sejumlah poster dan karya lukis bergantung di dindingnya. Di bagian atap menggantung kalimat-kalimat pengingat seperti ”Transforming Domestic Post-Consumer into Creative Expression”, yang artinya mengubah barang habis konsumsi menjadi ekspresi kreatif.
Di bawah tulisan itu ada Laisa Fernanda, yang juga mengenakan masker lengkap dengan penyaring, sibuk dengan mesin-mesin yang hampir lima kali lebih besar dari badannya.
Ia hampir tenggelam di antara mesin-mesin itu.
Namun, tangannya ulet. Ia mengambil cacahan, menebarnya di cetakan persegi berukuran 1 meter x 1 meter.
Cacahan plastik bening dan biru kemudian dihamburkan di cetakan sebelum masuk ke mesin pres.
Cetakan masuk mesin pres, ia kembali ke boks cacahan plastik dan mengulang aktivitasnya.
Butuh waktu 30 menit sampai satu jam untuk cacahan plastik selesai dipres, tergantung ketebalannya. Semakin tebal akan semakin lama.
Biasanya, Laisa menggunakan ukuran ketebalan 2 sentimeter sesuai kebutuhan Kopi Nako Daur Baur.
Cetakan persegi itu kemudian diolah dan dibentuk lagi menjadi berbagai produk, mulai dari furnitur hingga jam tangan.
Beberapa produk furnitur itu digunakan sendiri oleh setidaknya 60 gerai Kopi Nako di seluruh Indonesia, mulai dari top table, meja bar, top stool, displai, hingga coffee tray.
Untuk satu produk itu, mereka menggunakan setengah ton gelas bekas Kopi Nako.
Jika ada 10 produk saja, maka setidaknya ada 5 ton sampah yang dikelola.
Kini, di 60 kafe Kopi Nako, sebagian besar furnitur yang digunakan merupakan hasil daur ulang sampah mereka sendiri.







![[PART 1] Perjalanan Kemanusiaan Jurnalis Metropolitan Reportase di Tapal Batas Sumatera](https://screennewsbogor.com/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251217-WA0091-350x250.jpg)




