Keduanya hadir langsung ke Botani Square dan Jambu Dua.
Muzakki menjelaskan bahwa Qorin 2 tidak hanya menawarkan ketegangan horor, tetapi juga sarat isu sosial.
“Selain isu bullying yang diangkat di film ini, manusia itu bisa lebih menyeramkan dan sadis daripada hantu,” ujarnya.
Cerita Qorin 2 berfokus pada Pak Makmur dan anaknya Jaya, yang menjadi korban perundungan hingga mendorong sang ayah mengambil tindakan ekstrem.
Melalui sudut pandang Ibu Fitri—diperankan Wavi Zihan—film ini menggambarkan perjuangan seorang guru BP yang terhimpit tekanan moral, profesional, dan keluarga.
Wavi menggambarkan dilema berat karakternya.
“Hambatannya terlalu banyak. Sebagai guru BP aku harus adil, tapi di sekolah itu juga ada adik aku sendiri. Itu membuat Ibu Fitri serba salah,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan karakter adiknya, Rizal, yang diperankan Muzakki.
“Rizal itu remaja yang lagi nyari jati diri, tapi kesepian dan akhirnya ikut-ikutan jadi perundung,” ujar Wavi.
Keduanya mengaku chemistry terbangun cepat sejak hari pertama reading.
“Kami punya acting coach dengan metode luar biasa, jadi bonding-nya langsung dapet,” kata Muzakki.
Proses syuting berlangsung di Ciwidey selama satu bulan, menghadirkan suasana dingin ekstrem sebagai tantangan tambahan.
Menurut Wavi, Skala produksinya jauh lebih besar, dan horornya slasher—darah-darahan, sadis, dan seperti mengajak penonton naik rollercoaster.
Ketika ditanya mengenai target penonton, Wavi menyampaikan bahwa harapannya lebih dari sekadar capaian angka.
“Jujur kalau ngomongin nominal aku berserah aja, tapi harapan aku film ini benar-benar bisa diterima di banyak hati masyarakat. Yang penting penonton bisa bawa pulang isi dari film ini, terutama soal isu bullying,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa bullying adalah masalah yang sering terjadi namun minim perhatian.
“Isu bullying itu sebenarnya terjadi di mana-mana, tapi sulit ditrack karena butuh keberanian kolektif untuk membasmi. Semoga setelah nonton, teman-teman bisa refleksi dan lebih berani speak up,” tambahnya.
Untuk usia penonton, film ini ditujukan 17 tahun ke atas.
Namun Wavi mengatakan penyebaran informasi dari mulut ke mulut tetap menjadi harapannya.
“Yang paling bisa aku jangkau dulu keluarga dan teman-temannya mamaku. Word of mouth itu kredibilitasnya lebih kuat. Aku pengen mereka nonton,” ujarnya.
Ia juga berharap dukungan media dan sosial media dapat membantu menjangkau lebih banyak penonton.
“Paling penting semua tahu bahwa hari ini filmnya sudah tayang. Nikmati Qorin 2 dan nantikan tahap-tahap berikutnya,” pungkasnya.







![[PART 1] Perjalanan Kemanusiaan Jurnalis Metropolitan Reportase di Tapal Batas Sumatera](https://screennewsbogor.com/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251217-WA0091-350x250.jpg)




